BAHAN
AJAR (MATERI AJAR)
Kerajaan – kerajaan Islam di Indonesia
A.
Kerajaan
Islam di sekitar Selat Malaka
1.
Kerajaan Samudera Pasai (1267 – 1521
)
Merupakan kerajaan pertama di Indonesia yang menganut Islam dan mengalami perkembangan pada
pertengahan abad ke-13. Kerajaan Samudra Pasai tercatat dalam sejarah sebagai
kerajaan Islam yang pertama dan kapan tahun pasti berdirinya belum diketahui
dengan jelas. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhoukseumawe, Aceh
Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka. Berdasarkan lokasi kerajaan Samudra
Pasai tersebut, maka dapatlah dikatakan posisi Samudra Pasai sangat strategis
karena terletak di jalur perdagangan internasional, yang melewati Selat Malaka.
Dengan posisi yang strategis tersebut, Samudra Pasai berkembang menjadi
kerajaan Islam yang cukup kuat, dan di pihak lain Samudra Pasai berkembang
sebagai bandar transito yang menghubungkan para pedagang Islam yang datang dari
arah barat dan para pedagang Islam yang datang dari arah timur. Keadaan ini
mengakibatkan Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa
itu baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Kehidupan Politik
Kerajaan
Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al-Saleh,
sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1267 – 1297. Pada masa
pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venetia (Italia) tahun 1292 yang
bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah maka dapat diketahui
bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan. Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat,
maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad
al-Zahir atau Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad
adalah Sultan Mahmud yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 –
1345). Pada masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus
menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India, hingga pada awal
abad ke-16 terjadi beberapa pemberontakan internal di Pasai yang mengakibatkan
perang saudara sebelum akhirnya runtuh setelah mendapatkan serangan dari
Portugis tahun 1521.
Kehidupan Ekonomi
Uang Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai
Uang Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai
Berdasarkan letaknya yang strategis,
maka Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim, dan bandar transito.
Dengan demikian Samudra Pasai menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.
Kerajaan Samudra Pasai memiliki hegemoni (pengaruh) atas pelabuhan-pelabuhan
penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain. Samudra Pasai berkembang pesat pada
masa pemerintahan Sultan Malik al-Tahir II. Hal ini juga sesuai dengan
keterangan Ibnu Batutah. Menurut cerita Ibnu Batutah, perdagangan di Samudra
Pasai semakin ramai dan bertambah maju karena didukung oleh armada laut yang
kuat, sehingga para pedagang merasa aman dan nyaman berdagang di Samudra Pasai.
Komoditi perdagangan dari Samudra yang penting adalah lada, kapurbarus dan
emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal uang sebagai alat tukar
yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham (dirham).
Kehidupan Sosial
Budaya
Kemajuan dalam bidang ekonomi
membawa dampak pada kehidupan sosial, masyarakat Samudra Pasai menjadi makmur.
Kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling
menghormati sesuai dengan syariat Islam. Hubungan antara Sultan dengan rakyat
terjalin baik. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan
para ulama, dan Sultan juga sangat hormat pada para tamu yang datang, bahkan
tidak jarang memberikan tanda mata kepada para tamu. Samudra Pasai
mengembangkan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Salah satu bukti dari hasil
peninggalan budayanya, berupa batu nisan Sultan Malik al-Saleh dan jirat Putri
Pasai. Kehidupan sosial Pasai diatur menurut aturan hukum islam bahkan Pasai
juga memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penyebaran agama
Islam di nusantara dengan cara mengirimkan beberapa ulama-ulama mereka untuk
menyebarkan agama Islam di Jawa.
2.
Kerajaan Islam di Malaka
Masa
Kerajaan Malaka antara tahun 1396-1511 Masehi. Berada di Semenanjung Malaya
dengan ibukota di Malaka Pusat
perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara
tahun 1396-1414 M. Parameswara berasal dari Sriwijaya, dan merupakan putra Raja
Sam Agi. Saat itu, ia masih menganut agama Hindu. Ia melarikan diri ke Malaka
karena kerajaannya di Sumatera runtuh akibat diserang Majapahit. Pada saat
Malaka didirikan, di situ terdapat penduduk asli dari Suku Laut yang hidup
sebagai nelayan. Mereka berjumlah lebih kurang tiga puluh keluarga. Raja dan
pengikutnya adalah rombongan pendatang yang memiliki tingkat kebudayaan yang
jauh lebih tinggi, karena itu, mereka berhasil mempengaruhi masyarakat asli.
Kemudian, bersama penduduk asli tersebut, rombongan pendatang mengubah Malaka
menjadi sebuah kota yang ramai. Selain menjadikan kota tersebut sebagai pusat
perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman
yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, seperti tebu, pisang, dan
rempah-rempah.
Rombongan pendatang juga telah menemukan
biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya, kemudian terjalin hubungan
perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera. Salah satu komoditas penting
yang diimpor Malaka dari Sumatera saat itu adalah beras. Malaka amat bergantung
pada Sumatera dalam memenuhi kebutuhan beras ini, karena persawahan dan
perladangan tidak dapat dikembangkan di Malaka. Hal ini kemungkinan disebabkan
teknik bersawah yang belum mereka pahami, atau mungkin karena perhatian mereka
lebih tercurah pada sektor perdagangan, dengan posisi geografis strategis yang
mereka miliki.
Kehidupan
Ekonomi Pusat dan penguasa perdagangan di Asia Tenggara, ramai oleh lalu lintas
kapal. Malaka memungut pajak penjualan, bea cukai barang-barang yang masuk dan
keluar, yang banyak memasukkan uang ke kas negara. Adanya undang-undang laut
yang berisi pengaturan pelayaran dan perdagangan di wilayah kerajaan.
Politik Negara
Paham politik hidup yang diterapkan di Kerajaan
Malaka adalah berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan
secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui
hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga
keamanan internal dan eksternal Malaka. Seperti halnya hubungan baik dengan
Cina, tetap dijaga dengan saling mengirim utusan. Pada tahun 1405 seorang duta
Cina Ceng Ho datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Cina
dengan Malaka. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan lain tidak berani menyerang
Malaka.
Malaka Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam
Sebelum muncul dan tersebarnya Islam di
Semenanjung Arabia, para pedagang Arab telah lama mengadakan hubungan dagang di
sepanjang jalan perdagangan antara Laut Merah dengan Negeri Cina. Berkembangnya
agama Islam semakin memberikan dorongan pada perkembangan perniagaan Arab,
sehingga jumlah kapal maupun kegiatan perdagangan mereka di kawasan timur
semakin besar. Pada abad VIII, para pedagang Arab sudah banyak dijumpai di
pelabuhan Negeri Cina. Diceritakan, pada tahun 758 M, Kanton merupakan salah
satu tempat tinggal pedagang Arab. Pada abad IX, di setiap pelabuhan yang
terdapat di sepanjang rute perdagangan ke Cina, hampir dapat dipastikan
ditemukan sekelompok kecil pedagang Islam. Pada abad XI, mereka juga telah
tinggal di Campa dan menikah dengan penduduk asli, sehingga jumlah pemeluk
Islam di tempat itu semakin banyak. Namun, rupanya mereka belum aktif
berasimilasi dengan kaum pribumi sehingga penyiaran agama Islam tidak mengalami
kemajuan.
Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur,
Malaka juga ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam. Lambat laun, agama ini
mulai menyebar di Malaka. Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu
Prameswara akhirnya masuk Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam
agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka,
sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam. Selanjutnya, Malaka berkembang
menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak
kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah (1459—1477). Kebesaran Malaka
ini berjalan seiring dengan perkembangan agama Islam. Negeri-negeri yang berada
di bawah taklukan Malaka banyak yang memeluk agama Islam. Untuk mempercepat
proses penyebaran Islam, maka dilakukan perkawinan antar keluarga.
Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang
berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk
Islam. Ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, mereka telah
membantu proses penyeberan Islam di tanah Jawa. Dari Malaka, Islam kemudian
tersebar hingga Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina
Selatan). Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang
dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque..
Periode Pemerintahan
Usia Malaka ternyata cukup pendek, hanya satu
setengah abad. Sebenarnya, pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah yang dibantu
Dipati Unus menyerang Malaka, namun gagal merebut kembali wilayah ini dari
Portugis. Sejarah Melayu tidak berhenti sampai di sini. Sultan Melayu segera
memindahkan pemerintahannya ke Muara, kemudian ke Pahang, Bintan Riau, Kampar,
kemudian kembali ke Johor dan terakhir kembali ke Bintan. Begitulah, dari
dahulu bangsa Melayu ini tidak dapat dipisahkan. Kolonialisme Baratlah yang memecah
belah persatuan dan kesatuan Melayu.
3.
Kerajaan Islam di Aceh
Kesultanan
Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri
di provinsi Aceh, Indonesia. Kesultanan
Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu
kota Bandar Aceh Darussalam dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1
Jumadil awal 913 H atau pada
tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu
(1496 - 1903), Aceh mengembangkan pola dan
sistem pendidikan militer, berkomitmen dalam menentang imperialisme bangsa
Eropa, memiliki sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan
pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, dan menjalin hubungan diplomatik
dengan negara lain.
Awal mula
Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya kerajaan ini berdiri
atas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah
kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524
wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh
diikuti dengan Aru.
Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh
putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan
oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1571.
Masa Kejayaan
` Meskipun
Sultan dianggap sebagai penguasa tertinggi, tetapi nyatanya selalu dikendalikan
oleh orangkaya atau hulubalang. Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan
pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada
masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama. Pada tahun 1629, kesultanan
Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang
terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam
upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan
semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang
sama Aceh menduduki Kedah dan banyak
membawa penduduknya ke Aceh. Pada masa
Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda)
didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan
Tuanku Abdul Hamid. Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin
dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I. Semua ini
dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.
Kemunduran
Kemunduran Aceh disebabkan oleh
beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau
Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak,
Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu kedalam pangkuan
penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di
antara pewaris tahta kesultanan.
Diplomat Aceh ke Penang. Duduk : Teuku Kadi Malikul
Adil (kiri) dan Teuku Imeum Lueng Bata (kanan). Sekitar tahun 1870an.
Perang saudara dalam hal perebutan
kekuasaan turut berperan besar dalam melemahnya Kesultanan Aceh. Pada masa
Sultan Alauddin Jauhar Alamsyah (1795-1824), seorang keturunan Sultan yang
terbuang Sayyid Hussain mengklaim mahkota kesultanan dengan mengangkat anaknya
menjadi Sultan Saif Al-Alam. Perang saudara kembali
pecah namun berkat bantuan Raffles dan Koh Lay
Huan, seorang pedagang dari Penang kedudukan
Jauhar (yang mampu berbahasa Perancis, Inggris dan Spanyol) dikembalikan. Tak
habis sampai disitu, perang saudara kembali terjadi dalam perebutan kekuasaan
antara Tuanku Sulaiman dengan Tuanku Ibrahim yang kelak bergelar Sultan Mansur
Syah (1857-1870).
Pada akhir November 1871, lahirlah
apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas
"Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan
kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824
mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh
makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Para Ulee
Balang Aceh dan utusan khusus Sultan ditugaskan untuk mencari bantuan ke sekutu
lama Turki. Namun kondisi saat itu tidak memungkinkan karena Turki saat itu
baru saja berperang dengan Rusia di Krimea. Usaha bantuan juga ditujukan ke
Italia, Perancis hingga Amerika namun nihil. Dewan Delapan yang dibentuk di
Penang untuk meraih simpati Inggris juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan
alasan ini, Belanda memantapkan diri menyerah ibukota. Maret 1873, pasukan
Belanda mendarat di Pantai Cermin Meuraksa menandai awal invasi Belanda Aceh.
Perang Aceh dimulai sejak
Belanda menyatakan perang terhadap
Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman
diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali
berkobar pada tahun 1883, namun
lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa
mereka telah gagal merebut Aceh.
Sultan Aceh Muhammad Daud Syah menyerah di hadapan
Jenderal Van Heutsz.
Pada tahun 1896 Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari
banyak pemimpin Aceh, memberikan saran kepada Belanda agar merangkul para uleebalang, dan
melumatkan habis-habisan kaum ulama. Saran ini baru terlaksanan pada masa
Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz. Pasukan Marsose dibentuk
dan G.C.E. Van Daalen diutus mengejar habis-habisan pejuang Aceh hingga
pedalaman. Pada Januari tahun 1903 Sultan
Muhammad Daud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua
istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Panglima Polem Muhammad Daud, Tuanku
Raja Keumala, dan Tuanku Mahmud menyusul pada tahun yang sama pada bulan
September. Perjuangan di lanjutkan oleh ulama keturunan Tgk. Chik di Tiro dan
berakhir ketika Tgk. Mahyidin di Tiro atau lebih dikenal Teungku Mayed tewas
1910 di Gunung Halimun.
Perekonomian
Salah satu kerajinan logam di Aceh.
Aceh banyak memiliki komoditas yang
diperdagangkan diantaranya : Minyak tanah dari Deli, Belerang dari Pulau Weh dan Gunung Seulawah, Kapur dari
Singkil, Kapur Barus dan menyan dari Barus, Emas di pantai barat, Sutera di
Banda Aceh.
Selain itu di ibukota juga banyak terdapat pandai emas, tembaga, dan suasa yang mengolah barang mentah menjadi
barang jadi. Sedang Pidie merupakan
lumbung beras bagi kesultanan. Namun di antara semua yang menjadi komoditas
unggulan untuk diekspor adalah lada.
Kebudayaan
Arsitektur
Gunongan dan Kandang (Makam) Sultan Iskandar Tsani.
Tidak banyak peninggalan bangunan
zaman Kesultanan yang tersisa di Aceh. Istana Dalam Darud Donya telah terbakar
pada masa perang Aceh - Belanda. Kini, bagian inti dari Istana Dalam Darud
Donya yang merupakan tempat kediaman Sultan Aceh telah berubah menjadi Kraton
Meuligoe yang digunakan sebagai Pedopo Gubernur Aceh. Perlu dicatat bahwa pada
masa Kesultanan bangunan batu dilarang karena ditakutkan akan menjadi benteng
melawan Sultan. Selain itu, Masjid Raya Baiturrahman saat ini bukanlah
arsitektur yang sebenarnya dikarenakan yang asli telah terbakar pada masa
Perang Aceh - Belanda. Peninggalan arsitektur pada masa kesultanan yang masih
bisa dilihat sampai saat ini antara lain Benteng Indra Patra, Masjid Tua
Indrapuri, Pinto Khop, Leusong dan Gunongan beserta Taman Ghairah yang luas
dipusat Kota Banda Aceh.
Kesusateraan
Sebagaimana daerah lain di Sumatera,
beberapa cerita maupun legenda disusun dalam bentuk hikayat. Hikayat
yang terkenal diantaranya adalah Hikayat Malem Dagang yang berceritakan tokoh
heroik Malem Dagang dalam settingan penyerbuan Malaka oleh Angkatan Laut Aceh.
Ada lagi yang lain yaitu Bhikayat Malem Diwa, hikayat Banta Beuransah, Gajah
Tujoh Ulee, Cham Nadiman, hikayat Pocut Muhammad, hikayat Perang Goempeuni,
hikayat Habib Hadat, kisah Abdullah Hadat dan hikayat Prang Sabi. Salah satu karya kesusateraan yang paling terkenal
adalah Bustanus Salatin (taman para raja) karya Syaikh Nuruddin
Ar-Raniry disamping Taj al-salatin (1603), Sulalat al-Salatin (1612), dan
Hikayat Aceh (1606-1636). Selain Ar-Raniry terdapat pula penyair Aceh yang
agung yaitu Hamzah Fansuri dengan karyanya antara lain Asrar al-Arifin
(Rahasia Orang yang Bijaksana), Sharab al-Asyikin (Minuman Segala Orang
yang Berahi), Zinat al-Muwahidin (Perhiasan Sekalian Orang yang Mengesakan),
Syair Si Burung Pingai, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir, Syair
Dagang dan Syair Perahu.
Karya Agama
Para ulama Aceh banyak terlibat
dalam karya di bidang keagamaan yang dipakai luas di Asia Tengga. Syaikh
Abdurrauf menerbitkan terjemahan dari Tafsir Alqur'an Anwaarut Tanzil wa
Asrarut Takwil, karangan Abdullah bin Umar bin Muhammad Syirazi Al Baidlawy
ke dalam bahasa jawi.
Kemudian ada Syaikh Daud Rumy menerbitkan Risalah
Masailal Muhtadin li Ikhwanil Muhtadi yang menjadi kitab pengantar di dayah sampai sekarang. Syaikh Nuruddin
Ar-Raniry setidaknya menulis 27 kitab dalam bahasa melayu dan arab. Yang paling
terkenal adalah Sirath al-Mustaqim, kitab fiqih pertama terlengkap dalam
bahasa melayu.
Militer
Salah satu
meriam yang dimiliki Kesultanan Aceh.
Pada masa Sultan Selim II dari Turki Utsmani,
dikirimkan beberapa teknisi dan pembuat senjata ke Aceh. Selanjutnya Aceh kemudian
menyerap kemampuan ini dan mampu memproduksi meriam sendiri dari kuningan.
Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje adalah salah satu
tokoh yang cukup fenomenal saat kita berbicara mengenai perang Aceh. Misi utama
Snouck adalah “membersihkan” Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang
semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang
berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar
kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh. Pada
bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam,
‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang
berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama.
Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena
mereka hanya memikirkan bisnisnya.
Snouck menegaskan bahwa Islam harus
dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat
fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan
rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan
“pembersihan” ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya
kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan
mudah.
Bagian kedua laporan ini adalah
usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer
di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber
kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama
dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh
jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi. Cara yang ditempuh sama
dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan
kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara
semuslim.
KARTU SOAL
|
Siapa dan bagaimana siasat Snouck Hurgronje untuk
menghancurkan Aceh?
|
|
Sebutkan 2 sebab mundurnya kerajaan Aceh!
|
|
Bagaimana kondisi perekonomian dan peran Samudera Pasai dalam kancah
perdagangan internasional?
|
|
Bagaimana kebijakan Kerajaan Malaka sebagai
penguasa perdagangan di Asia Tenggara ?
|
|
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar:
a. Di mana letak
kerajaan Samudera Pasai?
b. Siapa peletak
kesultanan pertama di Samudera Pasai?
|
|
Deskripsikan latar belakang masuknya pengaruh Islam
kerajaan Malaka?
|
|
Bagaimana kondisi kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan
Sultan Iskandar Muda?
|
|
Bagaimana cara menjaga hubungan politik yang dibangun
oleh kerajaan Malaka dengan
kerajaan-kerajaan lain?
|
|
Bagaimana pengaruh kerajaan Samudera Pasai terhadap
perkembangan Islam di nusantara?
|
|
Apa yang melatarbelakangi semangat perang di Aceh
sehingga membuat Belanda cukup kewalahan?
|
KARTU
JAWABAN
|
a. Di pantai utara Aceh atau
sekarang tepatnya di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan
dengan Selat Malaka
b. Kerajaan Samudra Pasai yang
didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al- Saleh,
sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1285 – 1297. |
Kesultanan Aceh mengalami masa
ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh
menaklukkan Pahang yang
merupakan sumber timah utama.
Selain itu, pada masa pemerintahannya disusun sebuah undang-undang
pemerintahan, melakukan diplomasi dengan negara-negara Eropa dan membentuk
pertahanan militer yang kuat.
|
|
|
Peranan Kerajaan Malaka sebagai
penguasa perdagangan di Asia Tenggara terlihat dari ramainya perdagangan yang
berpusat di ibukota kerajaan tersebut. Malaka memungut pajak penjualan, bea
cukai barang-barang masuk dan keluar yang banyak memasukkan uang ke kas
negara. Suatu hal yang penting dari Kerajaan Malaka adalah memiliki
undang-undang laut.
|
· Faktor
utama yang menyebabkan semakin mundurnya kekuasaan kerajaan Aceh adalah
semakin menguatnya kekuasaan Belanda di wilayah Sumatera hingga akhirnya
pecah menjadi perang Aceh yang memakan waktu lama.
· Perang
saudara (intern) akibat dari perebutan kekuasaan antar golongan di Aceh,
yakni antara golongan Teuku (gol. bangsawan) dan Tengku (gol. ulama) maupun
dari intern golongan ulama sendiri.
|
|
|
Kehidupan perekonomian kerajaan
Samudera Pasai sudah terbilang maju. Dengan letaknya yang strategis, maka
Samudra Pasai berkembang sebagai kerajaan Maritim, dan bandar transito.
Dengan demikian Samudra Pasai menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.
Perdagangan di Samudra Pasai semakin ramai dan bertambah maju karena didukung
oleh armada laut yang kuat, sehingga para pedagang merasa aman dan nyaman
berdagang di Samudra Pasai. Komoditi perdagangan dari Samudra yang penting
adalah lada, kapurbarus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah
dikenal uang sebagai alat tukar yaitu uang
emas yang dinamakan Deureuham (dirham). |
||
|
Karena kekuatan Islam di Aceh
sangat besar dan mampu merangkul banyak orang serta menumbuhkan semangat perang
di jalan Allah (Fisabilillah) sehingga perang yang mereka tujukan semata-mata
bukan karena ingin merebut kekuasaan tapi juga memerangi kekafiran (Belanda)
sehingga semangat mereka sangat sulit untuk dikalahkan.
|
||
|
Dr. Snock Hurgronje adalah seorang
seorang ahli dalam agama islam dan melakukan tipu daya serta mencari
kelemahan-kelemahan pejuang kerajaan Aceh. Menurutnya, ada dua cara untuk
menundukkan Aceh yaitu melakukan pendekatan kepada para bangsawan dan
mengangkat putra-putra mereka menjadi pamong praja pada pemerintah Belanda,
karena tahu para bangsawan sangat mudah diajak kompromi. Sedangkan, kaum
ulama harus dihadapi dengan kekuatan senjata sampai menyerah karena semangat
perang fisabilillah sangat sulit untuk ditaklukan.
|
||
|
Pasai juga memiliki kontribusi
yang besar dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam di nusantara dengan
cara mengirimkan beberapa ulama-ulama mereka untuk menyebarkan agama Islam di
Jawa.
|
||
|
Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur dan letaknya yang
strategis, Malaka semakin ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam seperti
dari Gujarat, Arab, Persia. Lambat laun, agama ini mulai menyebar di Malaka.
Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu Prameswara akhirnya masuk
Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka
Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak
rakyatnya yang ikut masuk Islam. Kesultanan Aceh mengalami masa
ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda
|
||
|
Paham politik hidup yang diterapkan di Kerajaan Malaka adalah
berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara
efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan
diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga
keamanan internal dan eksternal Malaka
|