Blogger Widgets

Rabu, 03 September 2014

asal usul nama nagari bayang



Bayang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kecamatan ini terletak sekitar 75 km dari kota Padang arah ke selatan, yaitu sesudah kecamatan Koto XI Tarusan dari arah kota Padang menuju kota Painan. Berdasarkan Tambo Adat Nagari Bayang Nan Tujuh, nenek moyang orang Bayang berasal dari 3 nagari di Kubuang Tigo Baleh atau Solok sekarang yaitu : Kinari, Muaro Paneh dan Koto Anau. Mereka datang setelah nenek moyang orang Koto XI Tarusan dari nagari Guguk, Solok menempati lembah di sekitar Sungai Batang Tarusan. Peristiwa hijrah ini terjadi sekitar pertengahan abad 16. Di era Hindia Belanda (hingga pertengahan abad 20), distri Bayang terdiri dari dua nagari saja yaitu Bayang Nan Tujuh dan Koto Nan Salapan. Koto Nan Salapan sekarang menjadi kecamatan sendiri yaitu kecamatan IV Nagari Bayang Utara. Sementara Bayang Nan Tujuh menjadi kecamatan Bayang, dimekarkan menjadi beberapa nagari. Masyarakat Bayang pernah terlibat dalam perang melawan Pemerintah Hindia Belanda selama lebih kurang satu abad yaitu dimulai pada tahun 1663 sampai 1771.
Pada tahun 1915, pemuka adat nagari Bayang Nan Tujuh dan Koto Nan Salapan (sebelum menjadi kecamatan Bayang) mengadakan rapat di Koto Berapak dan Pulut-pulut merumuskan tambo (sejarah dan adat) Nagari Bayang yang menyatakan bahwa nenek moyang masyarakat Bayang dan cabang-cabangnya (Lumpo dan Salido) berasal dari tiga nagari di Kubuang Tigo Baleh (Solok sekarang) yaitu Muaro Paneh, Kinari dan Koto Anau. Mereka migrasi sesudah kedatangan nenek moyang masyarakat Koto XI Tarusan di sebelah utara, di balik bukit Bayang.
Nama nagari Bayang diilhami dari peristiwa migrasinya orang Muaro Paneh ke lembah Bayang. Ketika para leluhur tersebut melihat dari sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Karang. Jika kita melihat ke lembah Bayang, maka tampaklah di kejauhan seperti padi yang sedang menguning yang ternyata yang dilihat itu adalah rumput ilalang yang sudah hangus oleh kemarau. Maka dari kata "tabayang" (terbayang) padi menguning itulah diambil nama Nagari Bayang. Jadi kuat dugaan, bahwa migrasi besar-besaran itu terjadi pada musim kemarau panjang jauh sebelum abad 20 (tepatnya pada tahun 1915 ketika Tambo Adat Bayang Nan Tujuh dirumuskan dan dituliskan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar